Thursday, February 1, 2018

Cinta Tanpa Syarat





Awal Tulisan ini, ketika saya mendengar cerita dari salah seorang anak yang mendengar seorang Ibu yang marah kepada seorang gadis remaja karena kondisi anak ibu tersebut. Dari cerita yang saya tangkap, Gadis remaja tidak bisa menyembunyikan “ekspresi” ketika melihat anak tersebut ketika sedang menunggu antrian dikasir. Saya mengenal baik gadis remaja ini, dan bisa saya bayangkan bentuk ekspresi kagetnya seperti apa. Dengan sedikit menjerit melihat “keanehan” kondisi anak ibu tersebut, membuat ibunya marah dan langsung menceramahi gadis remaja itu didepan orang sambil menyembunyikan rasa sedih dihatinya.

Sambil bercerita kepada saya, kronologis dari awal sampai akhir mata saya mulai berkaca – kaca. Air mata saya terus jatuh, karena perasaan yang ibu tersebut alami, mungkin sama dengan ibu saya.

Flashback, ketika sedang bersama ibuk, saya selalu bertanya bagaiman ketika ibuk mengandung saya? Ibuk ngidam apa? detik – detik ketika ibuk mau melahirkan saya?

Ya Allah….
1000 kali kayaknya udah ibuk ulang ulang ra
Nyinyialah kayak nenek – nenek haha, candaan ibuk sambil tertawa

Jawaban pertanyaan – pertanyaan diatas sebenarnya sudah saya ketahui sejak SD.  Ketika kami ngumpul Ibuk sering bercerita tentang proses kelahiran anak – anaknya, yang masing – masing punya ceritanya sendiri – sendiri.

Yang paling besar siapa buk?
Iralah....
Yang paling kecil buk?
Ison....
Yang paling mudah lahir buk?
Ina sama pipin...
Yang paling susah lahir buk?
Ira...

Yang paling cengeng...? sahut papa
Iraaaaaa....  *sambil tertawa ( kompak semua anggota keluarga menjawab dan semua mata tertuju kesaya )

Dibantu dengan cerita ibuk, ketika saya sudah mulai dewasa dan bisa memahami mana yang benar dan mana yang menurut saya salah, saya mencari tahu sendiri dan mempelajari sedikit demi sedikit Ilmu Persalinan. Dengan bantuan teman dan adik saya yang berprofesi sebagai tenaga medis, membaca artikel, dan bahkan dari film – film yang berbau tentang kedokteran.

Saya terlahir dengan berat 4kg 2 ons, ukuran yang sangat besar untuk ibuk yang bertubuh kecil dan kurus ( pada waktu itu ). Dengan berat bayi yang besar dan posisi bayi sungsang seharusnya tindakan diambil adalah Operasi. Sebagian bayi, jika dilahirkan semuanya menangis, tetapi tidak dengan saya. Mengapa? Ini yang akhirnya saya mencari tahu sendiri, faktor penyebabnya. Dari cerita papa dan ibuk, proses kelahiran saya termasuk yang lama diantara saudara saya yang lainnya. Dengan posisi sungsang dan berat bayi yang besar, ini yang menyebabkan saya lama untuk bisa keluar. Bidan yang menangani ibuk terlihat kesusahan dan mencari akal agar bisa keluar dengan cepat. Proses persalinan dan mengejan yang terlalu lama membuat si bayi kelelahan didalam dan berkurangnya kadar oksigen. Wajar, jika dokter kandungan zaman sekarang langsung menyarankan tindakan operasi, karena melihat resiko yang terlalu besar. Akses transportasi yang dulu tidak seperti sekarang, ibuk saya hanya mengharapkan Bidan. Untuk ke Spesialis Kandungan sekaligus USG, butuh jarak sekitar 40 menit dari rumah. Pada posisi sungsang, biasanya kaki bayi yang duluan keluar, tidak seperti bayi normal yang kepala dahulu dan mudah untuk berjalan menuju keluar dari rahim.
Kepala yang masih didalam sedangkan kaki diluar, jam terbang yang banyak dari seorang Bidan ini  mau tidak mau harus diuji.
Akhirnya, saya berhasil melihat dunia.  Pertukaran suhu tak membuat saya menangis, Bidan pun mulai  menggosok- gosokkan tangannya ke punggung sayi, menepuk – nepuk paha dan juga kaki saya, serta membolak – balikkan badan saya. Hasilnya sama, saya pun masih tetap tidak menangis. Fungsi menangis pada bayi yang baru lahir adalah untuk melebarkan paru – parunya, mengeluarkan lendir dan cairan ketuban dari tubuh bayi.
Setelah menunggu hampir 20 menit agar menangis, Bidan pun mengambil jalur lain, yaitu dengan suntikan. Jarum yang menusuk kaki saya sebelah kiri membuat saya menangis semalaman tak henti – henti.

Berumur 2 Tahun orang tua saya mulai melihat ada yang salah dengan anaknya. Di usia anak umur segitu seharusnya sudah bisa berjalan bahkan lari. Menyadari saya yang belum bisa berjalan sedangkan adik saya ( yang berbeda 1 tahun ) sudah mulai berjalan, mulai berkonsultasi ke dokter. Upaya – upaya terus dilakukan orang tua saya dan nenek. Mulai membawa jalan pagi, mengeluskan embun rumpat pagi ke kaki saya, berobat kedokter satu ke dokter yang lainnya, dari ke tempat urut satu ke tempat urut lainnya, dan ikut terapi berjalan.

Saya merasa orang yang paling beruntung, memiliki orang tua yang sangat sayang dengan saya. Kekurangan yang saya miliki tidak membuat orang tua saya malu. Usaha – usaha untuk bisa berjalan normal seperti anak lainnya terus dilakukan kedua orang tua saya. Beranjak SMP, saya mulai berada dititik capek dan jenuh. Dengan baik saya meminta kepada papa untuk berhenti kedokter, tukang urut dan terapi.
Dengan nada lembut papa saya bilang kita kan usaha kak...!

Disanalah saya merasa kasih sayang orang tua kepada anak nya, tidak pernah putus asa untuk kesumbuhan anaknya. Kemana pun pengobatan yang terbaik kata orang pasti akan terus dicoba.

Saat masih kecil saya sering pulang – pulang dalam keadaan menangis. Baik itu pulang sekolah ataupun pulang ngaji. Mengadu ke ibuk karena sering diejek. Tapi ibuk orang yang paling sabar, mencoba menghibur hati anaknya yang sedang menangis ibuk bilang ira itu harus banyak bersyukur... banyak orang yang lebih kekurangan dari ira...kita harus lihat kebawah.
Ibu slalu membesarkan hati saya. pun ketika sudah mulai dewasa ketika orang lain underestimate terhadap saya, lagi – lagi ada ibuk yang slalu menegarkan hati saya. Padahal saya tahu, hati ibuk yang sangat – sangat sedih dan terluka.

Dimata saya ibuk dan papa adalah orang tua yang Paling Hebat. Tuhan “mengspecialkan” orang tua saya, melalui saya. Butuh hati yang besar, kesabaran, kesykuran lebih ketika Tuhan menganugrahkan seorang anak yang memiliki kondisi yang sedikit berbeda dari anak - anak yang lain. Tak jarang, sering kita melihat orang tua yang membuang anaknya, orang tua yang memperlakukan mereka berbeda dari anak – anak yang lain karena melahirkan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan mereka.

Orang tua, saudara dan sahabat saya menjadi orang – orang yang terpenting dikehidupan saya. Saya merasa orang yang paling beruntung didunia. Mereka slalu ada didekat saya dalam susah maupun senang, mensuport saya dan menerima segala kekurangan yang saya miliki. So, Nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan?

Dimata orang tua, saya sama dengan saudara saya yang lainnya. Tidak ada perbedaan, tidak diistimewakan. Jika salah tetap dimarahi, jika pekerjaan rumah itu tugas saya, saya kerjakan. Dari kecil saya dan saudara saya dilatih disiplin dan mandiri. Prinsip ibuk, perempuan harus bisa kerjain semua pekerjaan rumah tangga. Terbukti,saya bisa merasakan manfaatnya sekarang.

”Jangan lihat kekurangan kita sebagai alasan untuk tidak maju, jadikan kekurangan sebuah kelebihan. Kita makhluk ciptaan Tuhan yang terbaik. Gali terus potensi yang ada didiri kita, dan jadilah sebuah daun. Yang ketika muda bermanfaat untuk proses fotosintesis, yang ketika daun itu tua bermanfaat sebagai pelindung, dan pada saat gugur pun masih bermanfaat pupuk.”
Kata – kata dari teman saya ini, yang slalu saya tanamkan pada diri saya.
                        
Unconditional...
Unconditionally...
I will love you unconditionally...


Bagi orang tua anak merupakan segalanya, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pula dengan anak, bagi seorang anak orang tua merupakan segalanya, dan berusaha membahagiakan hati kedua orang tuanya. Unconditional love, bagaimanpun kondisi dan keadaan anaknya orang tua slalu mencintai dan menyayangi anak – anaknya.

Saat ini hal yang paling terpenting dikehidupan saya adalah melihat orang tua saya bahagia. Di usia papa dan ibuk yang sekarang sudah lebih dari setengah abad ( 66 Tahun dan ibuk 64 Tahun ) kebahagiaan beliau yang paling utama saat ini. Semoga kelak, saya bisa menjadi penolong untuk kedua orang tua saya nanti diakhirat, bisa menjadi anak yang mempermudah jalan kedua orang tua saya nanti menuju syurga. Mungkin ada cita – cita kedua orang tua saya yang belum saya bisa wujudkan sampai saat ini. Do’a –do’a kita satu Frekuensi... terdengar sampai ke penjuru langit. Insya Allah, Allah pasti mendengar dan mengabulkan do’a – do’a kita.

  

No comments:

Post a Comment